Paradoks gagak putih adalah salah satu paradoks yang perlu diperhatikan dalam filsafat ilmu pengetahuan. Ini dikarenakan paradoks gagak putih berkaitan erat dengan masalah penelitian dan pengamatan. Paradoks gagak putih dimulai dari sebuah teori bahwa semua gagak itu hitam.

Jika permasalahan ini hendak dipecahkan secara biologis mungkin masalah ini mudah dipecahkan dengan memandang adakah suatu burung dengan genus gagak yang berwarna bulu putih, albino misalnya. Yang jadi permasalahan bukan itu, gagak putih menjadi sebuah simbol mengenai sesuatu yang tidak dipercayai di dunia namun memiliki kemungkinan ada. Paradoks ini diajukan oleh Carl Gustav Hempel  pada tahun 1956.

Paradoks ini dimulai dari sebuah hipotesis atau teori yang menyatakan bahwa “Semua gagak itu hitam.” Pernyataan ini adalah pernyataan ilmiah. Pernyataan ini bisa dites dalam percobaan, misalnya mengambil sampel dari beberapa burung gagak di seluruh penjuru dunia.

Teori ini bahkan bisa difalsifikasi. Cara untuk memfalsifikasinya mudah, anda hanya perlu mencari seekor gagak putih dan menunjukkannya di hadapan publik sains. Karena dia bisa di verifikasi dan dia bisa difalsifikasi maka dia adalah pernyataan ilmiah yang sah. Namun selanjutnya akan ada permasalahan karena muncul hipotesis kedua.

“Semua yang tidak hitam bukan gagak!”

Ini menyebabkan kita andai saja menemukan gagak putih dan mengumumkannya ke masyarakat tidak membuat teori sebelumnya menjadi gugur. Ini disebabkan karena masyarakat beranggapan bahwa yang tidak hitam pasti bukan gagak karena itu segala yang putih tidak mungkin gagak.

Paradoks ini menunjukkan problema yang ada dalam induksi yang berlawanan dengan intuisi. Paradoks ini mengingatkan para ilmuan untuk hati-hati dalam penelitiannya terutama dalam masalah generalisasi. Ini juga mengingatkan agar ilmu pengetahuan tidak menjadi dogmatis. Ada beberapa penyelesaian dari paradoks ini namun tidak ditampilkan di sini.

http://www.experiment-resources.com/raven-paradox.html

http://en.wikipedia.org/wiki/Raven_paradox