Dalam sebuah penelitian seorang ilmuan diharapkan untuk objektif. Ini artinya sang ilmuan tidak terpengaruh oleh rengekan pacar atau pesanan donator ketika dia melakukan penelitiannya. Supaya jelas bahwa penelitiannya tidak melenceng dan dibuat-buat agar sesuai dengan pesanan. Peneliti juga diharapkan menelurkan teori dari fakta penelitiannya. Bukan menyesuaikan fakta-fakta ke dalam teori. Karenanya dia harus menyingkirkan asumsi-asumsi yang dimilikinya agar tidak mengganggu penelitiannya.

Kaum Induktivis naif percaya bahwa teori harus dihasilkan dari penelitian Induksi. Seorang peneliti haruslah memperoleh pemahamannya murni dari fakta-fakta lapangan. Dari sanalah muncul ilmu yang objektif.

Sayangnya, Ilmu tidak bisa bergerak tanpa interpretasi. Sekumpulan fakta saja tidak banyak berbicara. Disinilah para ilmuan kadang berbeda pendapat. Ilmuan satu dan ilmuan lain bisa menafsirkan sebuah percobaan secara berbeda-beda. Mencoba memaknai percobaan itu. Menghasilkan formula baru. Di sini, ilmuan mau tak mau terpengaruh oleh aliran yang dia pelajari sebelumnya. Terpengaruh oleh pendapat-pendapatnya.

Dengan kata lain gelas bisa separuh penuh atau bisa separuh isi. Hasil penelitian, bahkan macam fisika yang notabene ilmu alam, bisa menghasilkan pendapat yang berbeda. Antara ilmuan satu dengan ilmuan lain.

Sebenarnya permasalahan ini lebih dalam dari itu. Bisa saja mengenai perbedaan pendapat dalam penafsiran bisa dimaklumi. Setidaknya data-data yang didapat di kertas adalah objektif, diambil dari fakta lapangan, karena itu sekedar fakta-fakta dalam sebuah percobaan.

Namun masih ada masalah di sini. Sebuah Indra tidak selamanya menghasilkan hasil yang serupa dari orang satu ke orang lain. Misalnya pengamatan dari seorang dokter pastilah berbeda dari seorang awam biasa. Seorang dari pedalaman afrika pasti memiliki gambaran berbeda dengan seorang peneliti Amerika. Sebuah pohon misalnya, ketika seseorang melihatnya dia melihat ranting biasa. Namun coba gambar sebuah wajah pada batang pohon itu seorang akan mulai melihat tangan dari batang pohon itu. Contoh-contoh lain adalah gambar berwayuh arti yang sering muncul dalam psikologi.

Ini menunjukkan bahwa, bahkan pengamatan sendiri tidak luput dari asumsi dan latar belakang sang peneliti. Inilah suatu kelemahan yang dimiliki kaum induktivis naif yang percaya sepenuhnya pada ilmu sebagai turunan murni dari fakta.

Daftar Bacaan:

  • What is this called Science? – Chalmer