Ilmu diharapkan agar objektif. Apa yang dimaksudkan dengan objektif. Objektif artinya sesuai dengan keberadaan realitas. Objek berada di luar dari pengamat, ada di luar sana. Itu artinya apapun kondisi yang mempengaruhi pengamat maka suatu realitas di luar sana tidak berubah. Pengetahuan yang objektif artinya sesuai dengan objek yang ada di luar sana itu. Dengan kata lain pengetahuan yang objektif mensyaratkan suatu pengetahuan yang tidak terpengaruh oleh kondisi subjek pengamat.

Dengan kata lain objek yang diamati dipisahkan dari pengamat. Ini adalah idealitas dari ilmu pengetahuan, menciptakan suatu pengetahuan yang benar. Sayangnya idealisme ini tidak bisa diwujudkan atau mungkin malah ada pengetahuan macam ini. Objektivitas akan menghasilkan suatu perdebatan panjang dalam bidang filsafat.

Salah satu dari contoh kenapa pengetahuan tidak bisa mencapai idealisme objektif adalah bahwa teori bahkan suatu percobaan ilmu pengetahuan dipengaruhi oleh asumsi-asumsi yang tidak bisa dilepaskan dari kepala ilmuan. Ilmuan bukan robot, melainkan manusia, dengan demikian mereka tidak bisa seperti mesin untuk mendekati suatu fenomena. Bahkan mungkin memang seharusnya begitu dalam mengembangkan ilmu pengetahuan. Dalam mengembangkan ilmu pengetahuan diperlukan rasa penasaran, pengetahuan mengenai kegunaanya bagi manusia, semangat dalam ilmu. Dan hal-hal itu tidak bisa didapat dari sekedar mesin. Toh, kalaupun ada mesin ilmuan maka mesin itu penciptanya manusia juga dan akhirnya sama saja.

Kadang pendekatan ilmu sekarang menjadi lebih intersubjektif. Suatu teori tidak bisa diletakkan demikian saja dan dengan sendirinya terbukti benar. Sebuah ilmu haruslah dibuktikan pula oleh orang lain.

Namun demikian, walau prinsip yang murni menawarkan objektivitas murni memiliki banyak kendala, objektivitas menawarkan suatu prinsip sederhana dan kepercayaan terhadap kebenaran.

Sumber Bacaan:

  • http://www.importanceofphilosophy.com/Epistemology_Objectivity.html