Ilmu pengetahuan menciptakan peramalan. Tentu bukan peramalan seperti dalam kedai peramal yang membacakan mantra-mantra dan melihat ke bola kaca. Para ilmuan menciptakan sebuah peramalan didasarkan observasi empiris, menentukan fakta yang muncul sesudah fakta sebelumnya, atau bisa disebut prediksi. Sifat ini tidak bisa dihindari oleh ilmu pengetahuan bahkan tidak bisa dihindari dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam pengetahuan biasa kita contohkan pengetahuan Budi mengenai rumah makan yang baik. Budi adalah seorang penggemar kuliner, dia sering jajan di warung-warung sekitar kota bandung. Dari kebiasaannya ini dia memiliki pengetahuan mengenai di mana rumah makan yang murah, enak dan nyaman. Pada suatu hari dia mengajak pacarnya untuk pergi kencan di malam minggu.

Budi menyarankan untuk pergi ke warung Darmi Jaya. Kenapa? Itu karena seminggu yang lalu Budi pernah makan di warung darmi jaya, begitu juga beberapa hari sesudahnya. Karena itu Budi menyatakan Warung Darmijaya merupakan warung yang enak. Itu artinya jika Budi datang ke warung itu sebulan lagi maka warung itu masih saja enak.

Begitulah gambaran ilmu pengetahuan. Dia menciptakan peramalan. Teori misalnya air mendidih dalam seratus derajat merupakan peramalan. Ini artinya jika kita mengulang eksperimen mendidihkan air maka air akan selalu mendidih di saat suhu seratus derajat Celsius. Semakin baik teorinya semakin kuat peramalannya (perkiraannya). Rasanya peramalan yang segera berubah tidak begitu berguna. Kita membutuhkan peramalan macam ini, dalam suhu berapa air akan menguap, dalam suhu berapa besi akan memuai, bagaimanakah sifat-sifat emas dan lain sebagainya. Andai saja teori hari ini tidak bisa dipegang untuk memperkirakan suatu fenomena besok, apalah guna?

Peramalan ini juga muncul sebagai generalisasi, misal Mr. Ilmi sedang menyelidiki jenis kambing dengan meneliti kambing di pekarangannya. Kambing pertama berwarna hitam, kedua berwarna hitam, hingga hitungan ke seratus dia tidak menemukan kambing warna lain. Karena itu dia memutuskan bahwa kambingnya warna hitam. Tiap kali melihat kambing dia akan memiliki teori bahwa kambing yang dilihatnya pasti berwarna hitam.

Sayangnya ada masalah dalam peramalan ini, masalah ini berasal dari problema induksi. Misal Budi yang sudah mengecek warung Darmijaya berulang kali, mendapati bahwa hari sabtu nya makanan berubah karena koki tiba-tiba diganti. Begitu juga pak Ilmi yang mengira semua kambing berwarna hitam, dia tidak tahu bahwa di hutan ada kambing berwarna putih berkeliaran.