Dalam pikiran manusia terdapat dua jenis cara menyimpulkan. Yang pertama adalah sumber dari Deduksi. Deduksi berasal dari hal umum ke hal yang khusus. Misalnya kita memiliki preposisi bahwa “Semua manusia pasti mati.” “Socrates manusia” “Maka Socrates pasti mati”. Kedua adalah sumber pengetahuan induksi, yaitu dari yang khusus ke yang umum, misalnya “besi memuai, emas memuai, perak memuai,” kesimpulannya semua logam memuai.

Dalam sebuah ilmu pengetahuan dua jenis penyimpulan digunakan hanya saja ilmu pengetahuan menaruh perhatian khusus kepada metode penyimpulan induksi. Ini karena induksi berasal dari pengalaman dengan kata lain cocok dengan metode ilmiah. Deduksi berarti memiliki asumsi lebih dahulu yang belum diuji. Kita lebih baik menyimpulkan dari pengalaman sendiri dengan demikian jauh lebih akurat.

Sayangnya metode penyimpulan ini juga memiliki masalah. Masalah ini disebut sebagai masalah Induksi. Masalah induksi salah satunya diajukan oleh David Hume. David Hume adalah seorang filsuf Empiris dia menemukan dua problema Induksi.

  1. Melalui Induksi kita tak pernah yakin sebab suatu hal itu benar-benar suatu hal tersebut. Ini disebabkan karena sumber pengetahuan kita berasal dari suatu X didahului Y. Kita lalu menyimpulkan bahwa X itu disebabkan oleh Y. Padahal kita tidak pernah bisa tahu apakah X itu disebabkan oleh Y, kita menyimpulkan demikian hanya karena melihat yang satu menyebabkan yang lain. Kita tidak bisa tahu apakah demikian.
  2. Menurut David Hume kita mendapat pengetahuan dari induksi dengan kata lain berasal dari pengalaman. Kita percaya setelah kita mengamati suatu kebiasaan. Dengan melihat X selalu didahului Y kita menyimpulkan X disebabkan Y atau Y akan setelahnya disertai X. Sayangnya kenapa kita selalu menyimpulkan demikian tidak bisa ditelaah dari sebuah pengalaman induksi. Induksi sendiri tidak berasal dari sebuah Induksi.

Sumber Bacaan:

  • http://en.wikipedia.org/wiki/Problem_of_induction