Dalam ilmu pengetahuan kebenaran adalah sesuatu yang terus dicari. Pada zaman dahulu manusia mengabaikan mitos-mitos, dongeng-dongeng karena menginginkan kebenaran sejati. Ini menyebabkan ilmu pengetahuan kadang berkonflik dengan agama dan keuasaan, kadang bahkan dengan ilmu yang ada sebelumnya. Ini menyebabkan pertengkaran tidak hanya dalam pihak teori dan pemikiran, namun juga pribadi dan lain sebagainya.

Karena mencari kebenaran yang sejati ini. Ilmu pengetahuan tidak pernah berhenti mencari kebenaran. Penelitiannya tidak pernah usai untuk menemukan kebenaran yang sebenar-benarnya yang tidak diragukan lagi. Mungkin awal dari pemikiran ini ada pada Rene Descartes. Descartes mencoba mencari kebenaran yang tidak diragukan lagi, dengan cara meragukan segala sesuatu yang pernah diketahuinya. Dengan menghancurkan basis sebelumnya mengetahui kebenaran.

Ilmu pengetahuan melakukan suatu penelitian terus menerus. Usaha yang dilakukannya adalah agar tercapai progress. Suatu kemajuan dalam ilmu pengetahuan agar tidak stagnan. Karena ini penelitian-penelitian baru dilakukan dan terus dilakukan, mereka ingin mencapai daerah yang belum dicapai ilmu pengetahuan. Dan ketika teori lama tidak lagi bisa mumpuni maka teori ini dihancurkan dan diganti teori baru.

Namun disini tercipta suatu paradoks. Jika memang ilmu pengetahuan mengalami kemajuan dan mungkin saja akan terus mengalami kemajuan. Kebenaran baru mungkin saja mengganti kebenaran lama. Maka walau ilmu hendak mencapai kebenaran maka ilmu sebenarnya salah semua. Filsuf Ilmu Karl Raimund Popper mencoba memecahkan masalah ini dengan Verisimilitude. Verisimilitude adalah bagaimana sebuah teori mendekati kebenaran dari teori yang lain. Sebagai contohnya jam tanganku menunjukkan pukul tujuh dan jam tangan lainnya pukul delapan. Jam resmi yang diakui adalah pukul enam. Maka jam tanganku memiliki derajat Verisimilitude yang lebih besar.

Bagaimana mengukur derajat Verisimilitude ini. Popper mengajukan beberapa perumusan dari sebuah teori yang derajat verisimilitudenya melampaui satu sama lain. Diumpamakan ada dua jenis teori, Teori A dan Teori B. Maka derajad Verisimilitude A lebih besar dari B jika

a.) Semua kebenaran dalam Teori B juga kebenaran dalam Teori A.
b) Semua kesalahan dalam Teori A juga terdapat dalam Teori B
c) Sebagian kebenaran dalam Teori A tidak terdapat dalam Teori B, dan atau Sebagian kesalahan dalam Teori B tidak terdapat dalam Teori A.

Dengan perumusan ini diharapkan kita bisa mengukur dan mengetahui jenis teori yang lebih benar dan mendekati kenyataan dan mana teori yang kurang mendekati kenyataan. Ini karena semua teori dianggap hanya mampu mendekati kenyataan karena semua teori bisa salah Popper mendekatinya dengan Pola Kebenaran.

Sayangnya pada tahun 1974 Miller dan Tichý bekerja secara terpisah menunjukkan kelemahan dari definisi Popper mengenai Verisimilitude.  Teori A dan B memiliki jumlah kesalahan yang sama, Juga memiliki jumlah kebenaran yang sama.

Sumber Bacaan:

  • http://philosophy.wisc.edu/forster/220/notes_10.html
  • http://plato.stanford.edu/entries/popper/#ProKnoVer