Dengan dikeluarkannya filsafat dan ilmu dari ilmu, maka ilmu murni menjadi empiris. Sayangnya ferivikasionisme menyisakan banyak masalah. Pertama adalah masalah asumsi-asumsi ilmuan, yang kedua adalah masalah problema induksi dalam penelitian.

Dalam melakukan penelitian ilmuan bisa jadi memiliki asumsi-asumsi dalam penelitiannya. Asumsi-asumsi ini berasal dari teori-teori yang dia pelajari. Keberadaan asumsi-asumsi ini tidak selamanya buruk, ini karena memiliki asumsi-asumsi ini manusiawi bagi seorang ilmuan.

Sayangnya, dalam sebuah penelitian atau percobaan kadang asumsi-asumsi ini menjebak. Misalnya saja seorang peneliti mencoba meneliti sebuah teori dengan hipotesis “semua angsa itu putih”. Dia lalu mencari bukti-bukti bahwa “semua angsa itu putih.” Dia lalu mencari angsa-angsa, dia menunjukkan bahwa angsa di pekarangannya putih, angsa tetangganya putih, angsa di jalan putih. Dia lalu mengumpulkan angsa-angsa itu untuk menjadi bukti, kemudian mempresentasikan angsa-angsa itu di depan para peneliti.

Masalah Krusial Tentang Asumsi

Ada masalah krusial di sini, sebelum melakukan penelitian sang peneliti sudah memiliki asumsi bahwa “Semua angsa itu putih.” Dengan demikian dia mengumpulkan bukti-bukti bahwa angsa itu putih. Ini bisa jadi dia mencari “angsa-angsa putih” untuk membuktikan bahwa “semua angsa itu putih”. Ini menyebabkan blunder karena percobaan di-cocokkan untuk menjawab kebenaran sebuah teori. Mungkin ini bisa dihindari jika peneliti melakukan percobaan secara hati-hati. Namun demikian jika hal ini terjadi maka ilmu akan mengalami stagnansi dan tidak berkembang. Ini karena ilmu cenderung melakukan pembuktian-pembuktian terhadap teori yang sudah tentu ‘benar’.

Misalnya saja dalam sebuah penelitian seseorang menemukan keanehan dalam hasilnya. Lalu apakah dia akan melakukan kritik terhadap teori yang sudah pasti ‘benar’. Rasanya tidak, seorang ilmuan yang baru belajar tentu saja akan merasa ada yang salah dari penelitiannya dan mencari keanehan dalam penelitiannya yang menyebabkan kesalahan. Bisa jadi sang ilmuan merasa ada sesuatu dalam percobaannya yang salah bukan pada teori.