Pada Tahun 1922 muncullah suatu organisasi yang beranggotakan para filsuf di eropa. Organisasi ini bernama Lingkaran Wina (Verein Ernst Mach) Dipimpin oleh Ernest Carnap beranggotakan para ilmuan dan filsuf yang cukup terkenal mulai dari Rudolf Carnap hingga Curt Godel. Mereka berkumpul di Wina, sebuah kota yang kemudian menjadi nama kelompok mereka.

Kelompok mereka menganut suatu paham yang bernama Positivisme Logis. Positivisme Logis mengambil inspirasi dari buku Tractacus Logico Philosophicus karya filsuf besar Ludwig Wittgenstein, sebuah buku yang berisi masalah bahasa dan filsafat. Walaupun demikian sang filsuf Wittgenstein sendiri nampaknya kurang setuju dengan penafsiran kelompok Wina ini, bahkan dia malah membaca puisi ketika berkunjung ke kelompok ini. Secara garis besar anggota Lingkaran Wina mengakui Positivisme logis (kecuali mungkin Kurt Godel).

Dalam positivisme logis ini suatu pengetahuan dianggap sebagai Ilmu Pengetahuan (Science) manakala dia berasal dari pengamatan indrawi. Segala sesuatu pernyataan yang tidak berasal dari pengetahuan indrawi akan dikeluarkan dari bidang ilmu pengetahuan dan tidak dianggap memiliki makna. Selain berasal dari indra maka suatu pernyataan harus bisa ditilik kembali secara indrawi atau dibuktikan ulang secara dilihat, hal ini dinamakan Verifikasi. Maka dari itu aliran ini kadang dinamai juga Verifikasionisme.

Pemisahan ini sangat berguna untuk memisahkan antara ilmu pengetahuan dan agama. Juga ilmu pengetahuan dengan filsafat. Ini dikarenakan segala pernyataan yang tidak memiliki dasar pengamatan indrawi tidak memiliki makna. Karena agama dan filsafat seringkali pernyataanya tidak berasal dari sesuatu yang bisa diindra secara langsung maka mereka menjadi tidak bermakna.

Sayangnya ada kelemahan fatal dalam pandangan mereka. Jika memang demikian maka ilmu matematika tidak bisa dikatakan sebagai ilmu pengetahuan karena tidak memiliki dasar indrawi. Sebaliknya seni, berasal dari sesuatu yang indrawi dan bisa ditilik kembali, sehingga malah bisa disebut seni. Mungkin ini kenapa Wittgenstein lebih memilih membaca puisi ketika berada dalam pertemuan.

Sumber Bacaan: